Komunitas Teater Kaki Langit

Teater Kaki Langit merupakan sebuah komunitas teater independen yang berdiri di Surabaya.

Istimewa
Teater Kaki Langit saat pentas. 

Mulai awal Februari hingga Maret, setiap Sabtu dan Minggu, para anggota Teater Kaki Langit menuju Singosari untuk ‘menimba ilmu’.

Berbekal tekat bulat, mereka melalui hujan deras yang sering terjadi di sepanjang perjalanan.

Sebab, pelaksanaan Nyantrik yang pertama tersebut bertepatan dengan musim penghujan.

Satu Rasa Kopi Surabaya by Kopi Kompleks

Alasan 

Meski telah berdiri sejak 1998, Teater Kaki Langit baru memutuskan untuk “banting setir” ke komunitas independen pada pertengahan 2018.

Karena itu, berdasar rapat pembentukan struktur komunitas yang baru, diperlukan residensi (nyantrik) ke tempat kesenian lain untuk memperoleh wawasan dan pengalaman.

Melalui Nyantrik, diharapkan terjalin kerja sama dan transfer wawasan, khususnya terkait kesenian.

Jadi, hasil atau output dari Nyantrik berupa pentas kolaborasi.

Untuk pelaksanaan perdana, pentas kolaborasi tersebut digelar di Surabaya.

Tepatnya di Aula TK Sawunggaling dengan Anwari O (Kamateatra Art Project) sebagai sutradara.

Sementara itu, seniman dari Teater Kaki Langit akan menjadi tim pementasan dan produksi dalam kolaborasi tersebut.

Ide atau Gagasan yang Dibawa di Pentas Kolaborasi

Ketika Nyantrik, para aktor dari Kaki Langit mendapatkan pelatihan Anwari’s Method: Reality of Body.

Metode milik Anwari tersebut bertujuan untuk memantapkan atau membentuk tubuh aktor sebelum masuk ke garapan pertunjukan melalui gerakan khusus.

Untuk naskah, Anwari sebagai Sutradara tidak menggunakan naskah tertulis karya orang lain.

Jadi, selama kegiatan Nyantrik berlangsung, dia berusaha mendalami karakter atau kepribadian para aktor untuk merajut plot dan alur pementasan.

Sebab, kebanyakan aktor tersebut berasal dari luar Kota Surabaya.

Got Bestter Percussion

Nah, sudut pandang mereka yang berbeda terhadap fenomena-fenomena di Surabaya itulah yang kemudian dijadikan sebagai judul pementasan. Yakni, Absurditas di Tengah Kota.

Sebab, sebagai orang dari luar Surabaya yang hidup dan tinggal di Surabaya, para aktor tersebut juga dianggap Anwari sebagai bagian dari absurditas.

Daripada memaksakan naskah paten yang sudah jadi, Anwari lebih memilih para aktor untuk memanfaatkan potensi mereka masing-masing.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved