Tips Melatih Anak Berpuasa Sejak Usia Dini, Psikolog Ungkap Manfaatnya

Perlunya melatih anak berpuasa sejak usia dini diungkapan oleh Psikolog Anak, Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog.

ISTIMEWA
Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog. 

TRIBUNNEWSWIKI.COM, SURABAYA - Melatih anak berpuasa bisa dilakukan sejak dini.

Ketika beranjak dewasa, anak akan terbiasa, sehingga orangtua tidak bersusah payah lagi untuk mengajaknya berpuasa.

Perlunya melatih anak berpuasa sejak usia dini diungkapan oleh Psikolog Anak, Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog, Ia mengatakan, melatih anak bisa dilakukan dengan cara pembiasaan.

"Pembiasaannya tentu saja tidak dengan cara yang dipaksa, yang justru dapat membuat anak trauma dan menganggap bahwa puasa itu adalah hal yang menakutkan," kata Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog, Kamis (23/4/2020).

Menurutnya, orangtua bisa menerapkan beberapa tips supaya sukses untuk melatih anak berpuasa sejak dini.

Daftar Pemenang Program Anak Bangsa Siap Berkarya 2020 di Surabaya, Simak!

Sikapi COVID-19, Zilingo Trade Luncurkan Kampanye Digital di Rumah Lebih Betah, Puasa Lebih Berkah

"Pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah memberikan pengetahuan pada anak mengenai puasa itu apa dan apa manfaatnya," ujarnya.

Pengetahuan tersebut, lanjutnya, harus diberikan pada anak menghunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak supaya dapat dipahami dengan baik.

"Bisa juga disertai dengan gambar-gambar yang menarik agar anak lebih dapat menangkap maksudnya," ia menyarankan.

Langkah kedua yang bisa dilakukan orangtua, katanya, karena anak butuh adaptasi, jangan memaksa anak untuk langsung berpuasa dari subuh hingga magrib.

Anak sebaiknya diajak untuk menentukan sampai jam berapa kira-kira dia mampu berpuasa.

"Misalnya hari pertama, anak mengatakan bahwa ia mau berpuasa sampai pukul 9.00 pagi, lalu hari kedua diajak untuk berpuasa agak siangan, misalnya pukul 10.00, dan seterusnya," ungkapnya.

Bila ternyata anak tidak mampu, Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog, mengimbau orangtua lebih menyikapi secara fleksibel dan membolehkan anak untuk makan atau minum.

"Namun kemudian melanjutkan lagi menahan makan dan minum," imbuhnya.

Langkah ketiga, ia mengatakan, contoh dari lingkungan merupakan hal pertama yang dilihat oleh anak.

"Dengan demikian, bila orangtua meminta anak untuk berpuasa, tentu saja orangtua juga melakukan puasa. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain," pungkasnya.

(TRIBUNNEWSWIKI/Luthfi Husnika)

Ikuti kami di
KOMENTAR
309 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved