Pandemi Covid-19 Picu Meningkatnya Perilaku Pelecehan Lewat Media Sosial

Pandemi Picu Meningkatnya Perilaku Pelecehan Lewat Media Sosial, Seperti Kasus Fetish Kain Jarik

ISTIMEWA
Riza Wahyuni, S.Psi, MSi, Psikolog. 

TRIBUNNEWSWIKI.COM, SURABAYA - Menyebarnya pandemi covid-19 selama beberapa bulan terakhir yang mengharuskan banyak aktivitas dilakukan di rumah saja ternyata memicu berbagai permasalahan, termasuk meningkatnya kasus pelecehan melalui media sosial.

Melakukan aktivitas di rumah sepanjang hari membuat banyak orang tidak lepas dari ponsel atau smartphone mereka. 

"Sebelumnya sudah ada prediksi di awal pandemi kemarin bahwa kasus kriminal melalui media sosial akan meningkat, termasuk pelecehan seksual. Karena penggunaan smartphone selama di rumah saja akan mengalami peningkatan," kata Psikologi Klinis dan Forensik Layanan Psikologi Geofira, Riza Wahyuni, S.Psi, MSi, Psikolog.

Perempuan yang akrab disapa Riza ini menjelaskan, salah satu kasus yang tengah viral di media sosial yakni fetish kain jarik juga menyasar targetnya melalui media sosial.

"Ia (pelaku) juga mendapatkan korban dari media sosial kemudian menghubungi si korban dan melancarkan modusnya dengan dalih penelitian," ujarnya.

Dalam kasus fetish kain jarik, si pelaku mengaku pada korban tengah menjalankan penelitian akademik mengenai respons emosi seseorang ketika barada dalam keadaan ditutup semua tubuhnya dan diikat.

Soal Fetish Kain Jarik, Ini Kata Psikolog Klinis dan Forensik

Salah satu korbannya diminta untuk melakukan proses 'bungkus-membungkus' sendiri tanpa kehadiran pelaku. Pelaku hanya memantau lewat ponsel.

"Si korban ini kan tidak mengenal pelaku sebelumnya. Mereka berkenalan lewat platform media sosial. Kemudian disuruh praktik dan foto yang aneh-aneh," Riza mengatakan.

Melihat kondisi tersebut, penggunaan media sosial yang bijak dan berhati-hati terutama pada orang yang baru dikenal menjadi hal yang sangat krusial.

"Saya berpesan pada semua orang terutama anak muda supaya bijak bermedia sosial dan jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal. Karena media sosial ini bisa dikamuflase dengan mudah," jelas Riza.

Ia mnambahkan jika ada permintaan foto atau video yang tidak wajar dari siapapun jangan dituruti.

"Harus selektif. Bisa saja hal yang dianggap orang banyak itu biasa tapi bagi pelaku kejahatan seksual bisa jadi fetish mereka," tandasya.

Ikuti kami di
Penulis: melia luthfi.husnika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved