Mengintip Gaya Busana 'Men on Ice' Bermotif Tie Dye di Surabaya Fashion Festival 2020

Mengintip Gaya Busana 'Men on Ice' Bermotif Tie Dye di Surabaya Fashion Festival 2020

SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Busana tie dye 'Men on Ice' (kiri) yang diperagakan oleh model pria. Busana ini merupakan hasil karya Desainer Listya Dyah Rahayu. Terdapat enam koleksi yang dipamerkan dalam gelaran fashion show runway on ice Surabaya Fashion Festival 2020 di Grand City Mall, Minggu (20/12/2020). 

TRIBUNNEWSWIKI.COM, SURABAYA - Motif tie dye tengah naik daun beberapa waktu belakangan.

Motif yang didominasi corak abstrak ini banyak diadaptasi menjadi fashion yang cocok dikenakan oleh pria maupun wanita.

Seperti busana tie dye karya Listya Dyah Rahayu dari LDR Limited. Perempuan yang akrab disapa Listya ini mengatakan, motif tie dye sedang banyak digemari.

"Tie dye ini mulanya banyak dipakai untuk membuat baju tidur atau piyama. Tapi sekarang outfit ready to wear sudah banyak yang mengadaptasinya," kata Listya saat ditemui di gelaran Surabaya Fashion Festival 2020 di Grand City Mall Surabaya.

Ia mengatakan, motif tie dye yang abstrak membuat busana tersebut bisa dikenakan oleh pria maupun wanita.

"Sebenarnya kami banyak membuat busana untuk pria terutama di gelaran ini. Tapi busana ini bisa dipakai untuk wanita juga karena motifnya universal," jelasnya.

Untuk koleksi busana yang diangkat dalam Runway on Ice Surabaya Fashion Festival kali ini, Listya membuat enam koleksi outfit bertema winter yang diberi nama Men on Ice.

Koleksi ini, lanjutnya, terinspirasi dari winter dan salju yang biasa turun setiap akhir tahun di negara empat musim seperti Eropa.

"Desember ini musimnya kan salju. Nah outfit yang kami buat berbentuk bulat-bulat menyerupai salju," ujarnya.

Selain itu, suasana winter semakin kental dengan nuansa abstrak pada outfit yang berbahan dasar cerah tersebut. Sebab, nuansa abstrak itu menggambarkan daun-daun yang jatuh berguguran sebelum salju turun.

Untuk warna, Listya mengaku memilih warna dasar putih atau warna cerah lain seperti biru. Kemudian dipadukan dengan tie dye berwarna gelap.

"Untuk dasarnya dibuat dari baju yang sudah ada. Seperti kaus atau baju warna putih kemudian diolah kembali dengan memberikan motif tie dye. Ini sekaligus membuat busana yang sustainable. Memanfaatkan yang sudah ada tapi bukan barang bekas," urainya.

Di lain pihak, Nunky Jayanti Putri penyelenggara Surabaya Fashion Festival dari Next Management menuturkan, di runway hari terakhir ini, kebanyakan mengusung koleksi busana pria.

"Hari ini merupakan hari terakhir fashion show runway on ice. Kebanyakan mengangkat hasil batik dari pengrajin lokal dan UMKM. Lebih banyak juga desain busana untuk laki-laki," jelas Nunky.

Nunky mengaku animo para desainer dalam gelaran ini sangat besar. Sebab, banyak desainer yang merasa kecewa karena belum berkesempatan mengikuti event SFF.

"Banyak yang kecewa karena belum bisa ikut. Nanti ke depannya akan kami adakan event serupa untuk mewadahi karya para desainer," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR
804 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved