Covid19

PCR Saliva Based Testing

PCR Saliva Based Testing merupakan tes PCR pendeteksi virus corona berbasis sampel saliva.

SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
PCR Saliva Based Testing di National Hospital Surabaya, Selasa (2/2/2021) sebagai alternatif tes pendeteksi Covid-19 selain swab PCR. Dalam tes ini, sampel yang digunakan adalah saliva atau air liur, sehingga lebih mudah dilakukan sendiri. 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - PCR Saliva Based Testing merupakan tes PCR berbasis saliva.

Berbeda dengan swab tes biasa, PCR Saliva Based Testing menggunakan air liur atau saliva sebagai sampel pemeriksaan.

Pemeriksaan tes PCR berbasis saliva ini dimaksudkan untuk mengetahui seseorang terpapar Covid-19 atau tidak.

Meski tak jauh beda dengan swab tes PCR biasa, metode pengambilan sampel pada PCR Saliva Based Testing ini lebih mudah.

Bahkan, pasien bisa melakukan pengambilan sampel sendiri di rumah. Sehingga, bisa meminimalisir kontak dengan banyak orang termasuk tenaga medis.

National Hospital menjadi rumah sakit pertama yang memberlakukan tes PCR berbasis saliva di Indonesia.

PCR tes berbasis saliva ini diklaim memiliki akurasi yang lebih tinggi dari swab PCR.

Akurasinya satu dua persen lebih tinggi dari swab tes PCR biasa yakni mencapai 98 persen.

PCR berbasis saliva ini disebut memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan tes lain. Dengan begitu, hasil yang keluar akan lebih sensitif dan akurat.

Tes pendeteksi Covid-19 ini sudah mulai dijalankan oleh National Hospital sejak 11 Januari 2021 lalu. Untuk tarifnya setara dengan swab tes PCR.

Berbeda dengan swab PCR, pengambilan sampel Saliva Based Testing lebih mudah dilakukan.

Cara pengambilan sampel Saliva Based Testing

Pengambilan sampel air liur bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan tenaga kesehatan. Meski begitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya pengambilan sampel tepat.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah harus berpuasa. Hal ini akan mempengaruhi hasil tes.

Minimal satu jam sebelum tes harus berpuasa. Tidak boleh makan dan minum, serta tidak boleh memakai produk perawatan mulut seperti pasta gigi atau obat kumur. Ini mengantisipasi adanya kontaminasi dengan zat kimia.

Untuk kapasitas air liur yang diambil hanya perlu mengambil 1 mililiter

Yang perlu diperhatikan, Saliva Based Testing ini mengambil sampel air liur, bukan dahak. Jadi dalam pengambilan sampel haru hati-hati.

PCR Saliva Based Testing ini mendeteksi virus dalam air liur atau saliva, bukan sputum (dahak). Saat pengambilan harus hati-hati supaya tidak salah. Saliva yang diambil juga tidak boleh ada gelembung.

Untuk anak atau balita, pengambilan saliva akan dibantu oleh tenaga medis menggunakan pipet. Hal ini untuk menghindari kesalahan pengambilan sampel yang akan mempengaruhi hasil.

Supaya saliva yang diambil lebih mudah dan tepat, yakni dengan memijat bagian pipi. Karena, kelenjar air liur banyak terdapat di area tersebut.

Sampel saliva yang telah diambil kemudian dicampurkan dengan cairan buffer dan dikocok selama 30 detik di dalam tube khusus.

Cairan ini yang nantinya akan menjaga saliva tetap stabil di dalam tube. Saliva bisa bertahan selama lima hari sampai akhirnya dicek menggunakan alat PCR.

Sumber:

Wawancara dengan CEO National Hospital Adj. Prof. Hananiel Prakasya Widjaya pada TribunJatim Wiki beberapa waktu lalu.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved