Tren Fashion

Busana Wedding Bertema Cerita Rakyat Karya Para Desainer Muda Grandshow Virtual Alcarita

Busana wedding bertema cerita rakyat Indonesia karya para desainer muda Grandshow Virtual Alcarita

ISTIMEWA
Beberapa koleksi busana yang dirancang oleh para mahasiswa D3 Tata Busana Unesa. Dalam Grandshow yang digelar secara virtual tersebut, para desainer merefleksikan cerita rakyat dalam busana wedding modest fashion. 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Keberagaman suku di Indonesia membawa berbagai cerita rakyat yang berbeda.

Kisah cerita rakyat tersebut terus dilestarikan sebagai cerita dari masa ke masa.

Kisah yang berasal dari legenda ini kemudian dijadikan berbagai karya anak muda untuk berkarya.

Seperti yang dilakukan oleh para desainer muda D3 Tata Busana, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya.

Mereka merancang busana wedding berkonsep modest fashion yang idenya berangkat dari cerita rakyat. Karya mereka ini dipamerkan dalam Grandshow yang digelar secara virtual.

"Cerita rakyatnya ada yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Total ada 33 pasang busana," ungkap ketua pelaksana Oktafinna.

Adapun yang menjadi tema besar kali ini adalah Alcarita, yakni penggabungan dari kata 'al' dan 'carita'.

"Al berasal dari bahasa Arab, biasanya digunakan secara awalan. Sementara carita dalam bahasa Sansekerta berarti cerita atau kisah," ungkapnya.

Beberapa koleksi busana yang dirancang oleh para mahasiswa D3 Tata Busana Unesa. Dalam Grandshow yang digelar secara virtual tersebut, para desainer merefleksikan cerita rakyat dalam busana wedding modest fashion.
Beberapa koleksi busana yang dirancang oleh para mahasiswa D3 Tata Busana Unesa. Dalam Grandshow yang digelar secara virtual tersebut, para desainer merefleksikan cerita rakyat dalam busana wedding modest fashion. (ISTIMEWA)

Para desainer dibagi menjadi lima kelompok yakni Alcarita of Swarnadwipa, Alcarita of Borneo, Alcarita of Celebes, Alcarita of Flobawara dan Alcarita of Pamalu.

"Masing-masing kelompok membawa nuansa warna sendiri, ada gold, putih, biru, quetzal green, dan coklat," katanya.

Mereka menerjemahkan cerita rakyat ke dalam siluet busana, stilasi ragam hias, dan manipulating fabric yang memberi kesan anggun dan modern.

Menghadirkan lokalitas dan cerita rakyat dalam sebuah rancangan busana rupanya memberikan tantangan tersendiri bagi para desainer. 

Salah satunya Umy Hanik yang merancang ball gown yang terinspirasi dari cerita rakyat Tampe Ruma Sani.

"Di mana akhir ceritanya, Tampe Ruma Sani menjadi putri kerajaan. Untuk warna yang saya gunakan yaitu warna quetzal green dan dipadukan dengan warna nude," terangnya.

Ia sendiri mengambil ragam hias rebung atau kakando yang memiliki makna kesabaran dan keuletan dalam menghadapi tantangan.

"Kali ini, saya menerapkan manipulating fabric tucking, tasse, dan sedikit tambahan payet. Keunikannya terletak pada bagian rok, biasa disebut rok belimbing atau paneled circle skirt," katanya.

Untuk membuat bagian ini pun terbilang paling menantang. Gaunnya mempunyai delapan pias yang diberi lapisan agar terlihat tegak.

Melalui gelaran ini, ia berharap menginpirasi masyarakat untuk tetap berkarya.

"Kreatifitas tidak pernah dibatasi oleh fasilitas” Harapan saya dengan adanya virtual fashion show ini semoga menginspirasi banyak orang untuk tetap berkreasi dan berinovasi di tengah pandemi," tandasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved