Informasi Jawa Timur Terbaru

Menilik Karya Disabilitas Berkarya dalam Virtual Exhibition 'Cerita Kami'

Pameran virtual Cerita Kami usung karya lima anggota Disabilitas Berkarya asal Liponsos Kalijudan Kota Surabaya.

ISTIMEWA
Foto karya Kikin dari Disabilitas Berkarya 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Memiliki keterbatasan tak lantas membuat penyandang disabilitas tak mampu berkarya. Seperti yang dilakukan oleh anggota Disabilitas Berkarya.

Lima orang dari Disabilitas Berkarya yakni Kiking, Mukidi, Omay, Pina, dan Jacky yang merupakan penghuni Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Kalijudan, Kota Surabaya bahkan memiliki ketrampilan mengesankan dalam bidang fotografi sampai bisa menggelar pameran foto.

"Melihat teman-teman Disabilitas Berkarya seperti meneguhkan keyakinan kami bahwa fotografi itu bukan monopoli satu kelompok, semua bisa bersenang-senang dan mendapatkan pengalaman yang berbeda dalam melihat dunia," ujar Bahana Patria selaku Managing Director Melihat Bersama dalam virtual live Instagram bertajuk 'Bincang Santai Pembukaan Pameran Foto Cerita Kami', Kamis (4/3/2021) malam.

Foto karya Omay dari Disabilitas Berkarya
Foto karya Omay dari Disabilitas Berkarya (ISTIMEWA)

Bahana mengatakan, pertama kali melihat karya-karya anggota Disabilitas Berkarya di media sosial Instagram. Menurutnya, karya para anggota Disabilitas Berkarya ini sangat membuatnya kagum.

"Karya yang dihasilkan sungguh mengagetkan dan menumbuhkan decak kagum. Bukan tanpa alasan memang, karya-karya tersebut menampilkan visual yang bersifat personal dan berani," ungkapnya.

Pembelajaran fotografi di Disabilitas Berkarya ini sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2016. Pemerintah Kota Surabaya melakukan program pemberdayaan, salah satunya bidang fotografi.

Baca juga: Gelar Pameran Wedding di Tunjungan Plaza Surabaya, AP3 Angkat Konsep Wedding High Fashion

Bersama Arief Budiman atau akrab di panggil Leo, pembelajaran fotografi Disabilitas Berkarya dimulai. 

"Bermula dari keingintahuan anak-anak saat melihat kamera, kemudian berinisiatif untuk memperkenalkan lebih dalam lagi soal fotografi. Perjalanan yang tidak mudah tentunya. Selain kendala bahasa, juga keterbatasan alat," ungkap Leo dalam acara yang sama.

Namun menurut Leo, pembuktian diri teman-teman Disabilitas Berkarya membuat banyak pihak kemudian menyumbangkan kamera. Hingga, para anggota Disabilitas Berkarya bisa terus mengasah kemampuannya.

Baca juga: Ikut Pameran Bertajuk Perempuan, Amanda Anindita Ingin Sampaikan Kebebasan, Olah Rasa dan Setara

Kemampuan para anggota Disabilitas Berkarya ini diakui oleh Editor dan Kurator Melihat Bersama, Mamuk Ismantoro.

Mamuk yang juga seorang fotografer ini mengungkap kekagumannya terhadap karya lima anggota Disabilitas Berkarya yang berhasil mengikuti pameran 'Cerita Kami'.

"Meski memiliki keterbatasan, karya mereka tak kalah dengan yang lainnya. Bahkan, mereka bisa menunjukkan karya yang luar biasa. Dalam konteks proses berkarya, imaji-imaji yang ditawarkan justru melampaui sekat-sekat judul foto," ujarnya.

Mamuk mengatakan, pihak Melihat Bersama menjauhkan diri dari intervensi kepada karya-karya tim Disabilitas Berkarya, termasuk upaya memberikan judul pada tiap foto.

Menurut Mamuk, dalam karya seni yang patut dinilai adalah dari hasil akhirnya, bukan siapa yang membuatnya. 

"Oleh karena itu, setiap karya mempunyai nilai yang sangat tinggi sama dengan siapapun yang mendeklarasikan dirinya seorang fotografer," paparnya.

Pameran Cerita Kami kemudian hadir untuk menampilkan keluwesan interpretasi para anggota Disabilitas Berkarya melalui pameran fotografi.

"Penyandang disabilitas juga membutuhkan ruang apresiasi terhadap karya mereka. Pameran ini adalah bentuk apresiasi tersebut," kata Mamuk.

42 karya lima anggota Disabilitas Berkarya akan menghiasi dinding galeri maya www.melihatbersama.com. Pameran akan berlangsung hingga 31 Maret mendatang.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved