Pameran Bertajuk Harmoni Tanpa Batas, Para ABK Sulap Barang Bekas Jadi Tas Berkualitas

Yayasan Peduli Kasih ABK berinisiatif membuka galeri yang memamerkan hasil karya anak berkebutuhan khusus.

ISTIMEWA
Display karya anak berkebutuhan khusus yang mengikuti pameran di galeri seni Yayasan Peduli Kasih ABK bertajuk Harmoni Tanpa Batas. Foto tersebut didisplay dalam acara pembukaan pameran, Minggu (21/3/2021). 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Ruang yang bisa mewadahi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk menampilkan hasil karya mereka masih terbatas.

Untuk itu, Yayasan Peduli Kasih ABK berinisiatif membuka galeri yang memamerkan hasil karya Anak Berkebutuhan Khusus.

Dalam pameran yang bertajuk Harmoni Tanpa Batas tersebut, ada lebih dari 10 anak berkebutuhan khusus yang terlibat. Mereka diajarkan membuat karya yang tak hanya bernilai seni, tapi juga bernilai guna.

"Pameran ini bertujuan menemukan minat bakat anak sejak dini supaya bisa mengoptimalkan potensinya. Sekaligus menjadi wadah unjuk karya pada masyarakat luas," ujar Founder Yayasan Peduli Kasih ABK dr Sawitri Retno Hadiati saat membuka acara pameran, Minggu (21/3/2021).

Baca juga: Ria Enes Edukasi ABK Lewat Seni Mengelola Public Speaking Lewat Fans Figure Boneka Susan

dr Sawitri Retno Hadiati mengatakan, pameran seni yang dibuka di galeri YPKABK di Jalan Manyar Sabrangan No 1A Surabaya ini bisa menjadi alat bukti karya ABK.

"Ini adalah karya mereka. Anak berkebutuhan khusus yang berhasil mengoptimalkan potensi mereka. Karya ini tidak cuma indah tapi juga punya nilai jual tinggi," ujarnya.

Dalam prosesnya, dr Sawitri bersama para praktisi mengajak para ABK di YPKABK untuk study banding ke industri yang sudah berjalan. Para ABK diajak untuk belajar bagaimana membuat suatu produk bernilai guna.

Konsep yang diusung dalam pameran tersebut, lanjut dr Sawitri adalah zero waste yang ramah lingkungan. 

Baca juga: Peran Orangtua sebagai Mentor dalam Mengasah Bakat dan Potensi ABK

Jadi, ABK tak hanya diajarkan bagaimana menciptakan produk dan karya. "Mereka (ABK) bisa sekaligus berkontribusi dalam lingkungan hidup mereka," katanya.

Berbekal barang bekas seperti kain sprei atau sarung bantal tak terpakai, para ABK ini berhasil membuat berbagai produk yang bernilai.

"Ada yang membuat tas selempang yang cantik, hiasan dinding, lukisan, dompet dan aksesori pelengkap sebagai hiasan," dr Sawitri menjelaskan.

Menyambut positif pameran Harmoni Tanpa Batas, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1993-1998) menyatakan apresiasinya.

Menurutnya, pameran seperti ini adalah wadah tepat untuk memberikan rasa kebanggaan pada diri ABK maupun orangtuanya.

Baca juga: Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus di Norwegia, Pemerintah Sampai Siapkan Asisten di Kota Madya

"Masih banyak masyarakat kita yang belum memahami bahwa ABK ini bisa berkarya dan tak kalah dari orang lainnya. Bahkan, karya mereka bisa lebih baik. Ini saatnya kita menunjukkan bahwa potensi yang dimiliki ABK adalah hal terpendam yang harus dinaikkan ke publik," ucap Prof Wardiman Djojonegoro.

Sejalan dengan Prof Wardiman, dokter sekaligus penyanyi Tompi, juga mengungkapkan kekagumannya.

Galeri seni Harmoni Tanpa Batas ini dikatakan Tompi bisa menyokong ekonomi kreatif Indonesia.

"Karya teman-teman ABK ini sangat unik dan bernilai jual. Seperti yang kita tahu kalau sektor ekonomi kreatif menyumbang cukup besar dalam perekonomian negara, salah satunya dari karya. Semoga pameran ini bisa menginspirasi para ABK di mana pun berada untuk mau dan semangat berkarya," pungkasnya.

Para ABK yang mengikuti pameran berasal dari latar belakang usia berbeda. Mulai dari usia 4 tahun sampai 48 tahun.

Karya para ABK tersebut bisa dilihat di galeri seni Yayasan Peduli Kasih ABK mulai 21 Maret sampai 4 April 2021 mendatang.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved