Informasi Kesehatan

Peran Psikiater Anak dan Remaja dalam Menangani Permasalahan Mental ABK dalam Kasus Autisme

Peran Psikiater Anak dan Remaja dalam Menangani Permasalahan Mental ABK dalam Kasus Autisme

Penulis: melia luthfi.husnika
Editor: Adrianus Adhi
ISTIMEWA
Peran Psikiater Anak dan Remaja dalam Menangani Permasalahan Mental ABK dalam Kasus Autisme 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Dokter ahli jiwa atau yang sering disebut psikiater memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan kesehatan mental, termasuk pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Kondisi Anak Berkebutuhan Khusus yang berbeda dengan anak lainnya memerlukan perhatian khusus dari orangtua dan keluarga.

Berbeda dengan kebanyakan anak, di mana gangguan mental bisa teridentifikasi dengan mudah, pada Anak Berkebutuhan Khusus perlu dilakukan analisa lebih dalam.

Di sini lah peran psikiater dan psikolog akan sangat membantu orangtua dalam memahami anak mereka.

Baca juga: Pameran Bertajuk Harmoni Tanpa Batas, Para ABK Sulap Barang Bekas Jadi Tas Berkualitas

dr Sawitri Retno Hadiati Founder Yayasan Peduli Kasih ABK menuturkan, pihak pertama yang perlu diedukasi terkait pentingnya peranan psikiater ini adalah orangtua, keluarga dan masyarakat.

"Kalau orangtua dan masyarakat sekitar sudah tereduksi, penanganan gangguan pada anak akan lebih mudah dilakukan," ungkapnya dalam Kelas Diskusi #Akadmiability yang diselenggarakan oleh Yayasan Peduli Kasih ABK bekerja sama dengan Harian Surya dan TribunJatim.

Dalam acara yang bertajuk 'Peran Psikiatee Anak dan Remaja pada ABK' tersebut, dr Sawitri Retno Hadiati mengatakan salah satu kondisi Anak Berkebutuhan Khusus yang memerlukan bantuan medis dari psikiater adalah kondisi autisme.

Baca juga: Pentingnya Edukasi Soal Kesehatan Reproduksi pada Anak Berkebutuhan Khusus

Autis membuat anak kesulitan melakukan komunikasi dan interaksi dengan sekitarnya, sehingga kerap dikatakan mengalami gangguan mental berat.

Padahal, dr Izzatul Fithriyah, dr. Sp. Kj (K) Psikiater, yang merupakan Konsultan Psikiatri Anak Remaja menuturkan, kondisi anak autis bukan merupakan gangguan jiwa.

"Autis dan ODGJ berbeda. Autis ini hanya kondisi di mana anak kesulitan dalam berinteraksi dan komunikasi karena ada gangguan syaraf. Jadi berbeda dengan anak lain pada umumnya," ujar dr Izza.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved