Informasi Kesehatan

Peran Psikiater Anak dan Remaja dalam Menangani Permasalahan Mental ABK dalam Kasus Autisme

Peran Psikiater Anak dan Remaja dalam Menangani Permasalahan Mental ABK dalam Kasus Autisme

ISTIMEWA
Peran Psikiater Anak dan Remaja dalam Menangani Permasalahan Mental ABK dalam Kasus Autisme 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Dokter ahli jiwa atau yang sering disebut psikiater memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan kesehatan mental, termasuk pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Kondisi Anak Berkebutuhan Khusus yang berbeda dengan anak lainnya memerlukan perhatian khusus dari orangtua dan keluarga.

Berbeda dengan kebanyakan anak, di mana gangguan mental bisa teridentifikasi dengan mudah, pada Anak Berkebutuhan Khusus perlu dilakukan analisa lebih dalam.

Di sini lah peran psikiater dan psikolog akan sangat membantu orangtua dalam memahami anak mereka.

Baca juga: Pameran Bertajuk Harmoni Tanpa Batas, Para ABK Sulap Barang Bekas Jadi Tas Berkualitas

dr Sawitri Retno Hadiati Founder Yayasan Peduli Kasih ABK menuturkan, pihak pertama yang perlu diedukasi terkait pentingnya peranan psikiater ini adalah orangtua, keluarga dan masyarakat.

"Kalau orangtua dan masyarakat sekitar sudah tereduksi, penanganan gangguan pada anak akan lebih mudah dilakukan," ungkapnya dalam Kelas Diskusi #Akadmiability yang diselenggarakan oleh Yayasan Peduli Kasih ABK bekerja sama dengan Harian Surya dan TribunJatim.

Dalam acara yang bertajuk 'Peran Psikiatee Anak dan Remaja pada ABK' tersebut, dr Sawitri Retno Hadiati mengatakan salah satu kondisi Anak Berkebutuhan Khusus yang memerlukan bantuan medis dari psikiater adalah kondisi autisme.

Baca juga: Pentingnya Edukasi Soal Kesehatan Reproduksi pada Anak Berkebutuhan Khusus

Autis membuat anak kesulitan melakukan komunikasi dan interaksi dengan sekitarnya, sehingga kerap dikatakan mengalami gangguan mental berat.

Padahal, dr Izzatul Fithriyah, dr. Sp. Kj (K) Psikiater, yang merupakan Konsultan Psikiatri Anak Remaja menuturkan, kondisi anak autis bukan merupakan gangguan jiwa.

"Autis dan ODGJ berbeda. Autis ini hanya kondisi di mana anak kesulitan dalam berinteraksi dan komunikasi karena ada gangguan syaraf. Jadi berbeda dengan anak lain pada umumnya," ujar dr Izza.

Menurutnya, dalam kondisi seperti ini orangtua harus benar-benar memahami ganggaun yang dialami anaknya. Sebab, itu akan berpengaruh bagaimana penanganan si anak ke depannya.

"Kalau orangtua tidak tahu dan salah mengambil tindakan, kondisi anak malah tidak membaik. Anak akan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari mereka," tambahnya.

Baca juga: Perlakuan Anak Berkebutuhan Khusus di Norwegia, Pemerintah Sampai Siapkan Asisten di Kota Madya

dr Izza menjelaskan, berbeda dengan gangguan kejiwaan berat seperti ODGJ, autis biasanya ditandai dengan kontak mata tak beraturan. Selain itu, interaksi sosial juga sulit.

"Kalau gangguan jiwa berat tandanya lebub parah misal marah-marah, gelisah berlebihan dan bahkan mengarah pada halusinasi. Ini jelas beda jauh dengan autis," ungkapnya.

Sedangkan untuk penanganan anak dengan autisme, dr Izza mengimbau orangtua supaya segera datang dan berkonsultasi pada ahli jiwa atau psikiatri.

Di sini, psikiatri akan membantu orangtua dalam memperbaiki perilaku anak autis supaya lebih terkontrol. "Bahkan kalau butuh pendampingan psikolog kami juga arahkan," imbuhnya.

Untuk kondisi autisme yang sudah mengalami gangguan perilaku sehari-hari seperti gangguan mood, marah, memukul atau bahkan self harm menurut dr Izza harus melakukan terapi obat di psikiater.

"Kalau sudah muncul gangguan yang menggangu kegiatan sehari-hari biasanya psikiater akan menyarankan untuk terapi obat. Misal sudah gangguan tidur atau moody. Obat ini tidak akan membuat ketergantungan dan tidak ada efek samping berbahaya. Mungkin hanya penambahan berat badan," dr Izza menjelaskan.

dr Izza berharap, orangtua yang memiliki anak dengan gejala autisme harus segera memeriksakan ke dokter dan psikiater. Ini supaya si anak bisa langsung tertangani dengan metode yang tepat.

"Kalau dari awal sudah tahu permasalahan, akan mudah mencari solusi. Jadi gangguan yang muncul bisa terkontrol sehingga dampaknya tidak menjadi makin buruk," pungkasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved