Informasi Kesehatan

Pemeriksaan Mammografi untuk Kanker Payudara, Hanya Boleh Dilakukan di Atas Usia 40 Tahun

Pemeriksaan Mammografy untuk Kanker Payudara, Hanya Boleh Dilakukan di Atas Usia 40 Tahun

ISTIMEWA
Alat skrining mammografi untuk deteksi dini kanker payudara 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Penderita kanker payudara berdasarkan data Global Cancer Observatory dari WHO tahun 2018 mencapai 348.809.

Oleh karena itu, kanker payudara menjadi salah satu pembunuh mematikan terutama bagi wanita.

Sebab, rata-rata kematian kanker payudara dari Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes) mencapai 17 orang per 100.000 penduduk. 

Karena angka kematian yang disebabkan oleh kanker payudara ini cukup besar, para dokter menyarankan untuk melakukan deteksi dini kanker melalui beberapa upaya.

Baca juga: Mengenal Dua Jenis Vaksinasi HPV untuk Cegah Kanker Serviks, Mana Paling Efektif?

"Setiap tahunnya, angka kanker payudara semakin meningkat. Itulah mengapa skrining atau deteksi dini kanker diperlukan," ujar dr Lucia Dwi Puspitasari, Sp.Rad (K) spesialis radiologi dari rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya ( RSAH).

Skrining kanker payudara yang disarankan adalah Mammografi. Skrining ini bisa dilakukan untuk mendeteksi apakah ada sel kanker dalam tubuh.

Namun, sebelum melakukan deteksi dini melalui metode Mammografi, dr Lucia mengatakan ada beberapa prosedur yang harus diketahui.

"Pertama sebelum skrining tidak boleh pakai dyodoran, pelembab ataupun bedak. Untuk menghindari kesalahan pembacaan mammografi ketika dilakukan pemeriksaan," dr Lucia menjelaskan.

Menurut dr Lucia, pemakaian dyodoran, pelembab atau bedak biasanya akan tertangkap alat mamografy sebagai bercak yang menutupi kelenjar payudara sebenarnya. 

Baca juga: Pentingnya Masakan Sehat untuk Menjaga Gizi Penyintas Kanker Selama Pandemi

"Kalau tertutup akan membuat kondisi sebenarnya tidak kelihatan. Misal di bagian tersebut ada klasifikasinya," ujarnya.

Syarat kedua, skrining mammografi bisa dilakukan dalam siklus 7 sampai 10 hari setelah menstruasi. 

Diwaktu ini kelenjar payudara sudah kelmbali normal dari perubahan hormon usai menstruasi. 

dr Lucia memaparkan, pemeriksaan mammografi tidak boleh asal dilakukan, terutama pada wanita berusia di bawah 40 tahun.

"Pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk wanita yang berusia 40 tahun keatas. Kalau untuk yang masih berusia muda bisa melakukan Periksa Payudara Sendiri (Sadari), bila saat Sadari menemukan benjolan atau sesuatu yang mencurigakan di payudara bisa melakukan USG untuk payudara," kata dr Lucia.

Ditanyai soal anjuran untuk usia 40 tahun ke atas, dr Lucia mengatakan, untuk usia 40 tahun ke atas, karena diusia ini kelenjar fibroglandular (kelenjar payudara) tidak sebanyak diusia muda. 

Kalau kelenjarnya tidak sebanyak di usia muda, bila ada klasifikasi atau pergerakan massa akan terlihat dengan jelas," papar dr Lucia. 

"Apabila ingin melalukan pemeriksaan mamografy saat ini, tak perlu khawatir rasa sakit karena dengan adanya alat terbaru RS Adi Husada Undaan Wetan, yakni alat digital mammografy yang bernama Senographe Care Mammography akan meminimalisir rasa sakit," pungkasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved