Anak Kecanduan Gawai? Psikiater: Penetapan Durasi Dua Jam Sehari Perlu

Seiring perkembangan zaman dan modernisasi, teknologi semakin menjamah berbagai lini kehidupan. Gawai salah satunya.

ISTIMEWA
Ilustrasi anak bermain ponsel 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Seiring perkembangan zaman dan modernisasi, teknologi semakin menjamah berbagai lini kehidupan. Gawai salah satunya.

Kini gawai menjadi kebutuhan hampir setiap orang. Di kondisi pandemi seperti saat ini tak hanya orang dewasa, tapi anak sekolah dasar juga membutuhkan alat komunikasi tersebut untuk mengikuti sekolah online.

Namun, penggunaan gawai yang tidak pada porsinya bisa berdampak tidak baik dalam keseharian dan kesehatan mental, terutama pada anak.

"Di sini orangtua punya peran penting sebagai pengontrol anak. Semakin sering anak mengoperasikan gawai untuk bermain, ia akan kehilangan waktu sosialnya," ujar dr Izzatul Fithriyah, dr. Sp. Kj (K) Psikiater.

Baca juga: Anak Hiperaktif ADHD Sering Dicap Nakal, Ketahui Penyebab dan Terapi Penyembuhannya

dr Izzatul Fithriyah mengatakan, jika anak sejak kecil sudah dibiasakan bermain gadget, ia akan susah berinteraksi di dunia nyata.

"Anak yang sudah kecanduan gadget atau gawai akan bingung ketika dihadapkan pada kenyataan. Ia bisa jadi sulit membedakan mana yang nyata mana yang tidak," kata dr Izzatul Fithriyah.

Tak cuma itu, kesehatan mental anak yang kecanduan gawai juga akan berpengaruh. Misalnya, saat anak tengah bermain gawai dan secara sengaja diambil oleh orangtuanya, si anak akan memberikan respons yang berlebihan.

"Kalau kondisi sudah kecanduan dan hampir tidak bisa dihentikan, dampaknya anak bisa bersikap memberontak ketika orangtua berusaha menjauhkannya dari gadget. Bahkan anak bisa saja merespons buruk hingga terjadi tantrum," papar dr Izzatul Fithriyah.

Baca juga: Peran Psikiater Anak dan Remaja dalam Menangani Permasalahan Mental ABK dalam Kasus Autisme

Oleh karena itu, dr Izzatul Fithriyah memberikan tips anak tidak kecanduan gadget pada orangtua.

"Pertama peran orangtua dalam mengawasi. Berikan pembatasan jam penggunaan gawai secara konsisten. Sebab, kalau sudah kecanduan dan keseharian anak terganggu bisa terjadi gangguan," dr Izzatul Fithriyah menjelaskan.

Selain pengawasan tersebut, orangtua juga perlu memperhatikan durasi penggunaan gadget untuk balita di bawah dua tahun.

Menurut dr Izzatul Fithriyah, balita sampai usia dua tahun hanya boleh menggunakan gawai selama 2 jam dalam satu hari.

"Maksimal dua jam. Harus tegas. Kalau anak rewel, tetap jangan diberikan. Ini supaya anak tidak ketergantungan dengan gadget," paparnya.

 Melalui pembatasan yang ketat, dr Izzatul Fithriyah berharap angka kecanduan gadget pada anak bisa berkurang.

"Memang sekarang era digital, perlu juga mengenalkan teknologi pada anak sejak dini. Tapi harus diingat bahwa ada porsi masing-masing di setiap penggunaannya," pungkasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved