Temu Virtual Wanita Permabudhi Ajak Kilas Balik Perjuangan Kartini di Masa Lalu

Mengenang perjuangan dan jasa-jasa RA Kartini sebagai pahlawan nasional perempuan Indonesia, Wanita Permabudhi menggelar temu virtual.

ISTIMEWA
Ketua Lembaga Pemberdayaan Wanita, Seni dan Budaya Permabudhi, Ritha Helena dalam acara temu virtual bertajuk 'Perempuan Hebat Berbakti untuk Negeri' dalam rangka memperingati Hari Kartini. 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Mengenang perjuangan dan jasa-jasa RA Kartini sebagai pahlawan nasional perempuan Indonesia, Wanita Permabudhi menggelar temu virtual.

Mereka mengajak dan memotivasi seluruh perempuan yang ada di Indonesia untuk bukan hanya tak lupa perjuangan RA Kartini, namun juga melanjutkannya.

Tak cuma itu, dalam temu virtual tersebut juga turut berpartisipasi dan memberikan ucapan beberapa tokoh penting di antaranya Sinta Nuriyah Wahid, istri alm Gus Dur, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hingga Puan Maharani dan beberapa perempuan berpengaruh lainnya.

"Kami menggelar temu virtual untuk memotivasi seluruh perempuan Indonesia supaya tak melupakan perjuangan RA Kartini pada masanya. Kartini selalu berjuang soal emansipasi terutama dalam bidang pendidikan perempuan," kata Ketua Lembaga Pemberdayaan Wanita, Seni dan Budaya Permabudhi, Ritha Helena, Senin (26/4/2021).

Mengambil tema 'Perempuan Hebat Berbakti untuk Negeri', temu tersebut juga bertujuan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme.

Baca juga: Wanita Permabudhi Edukasi Masyarakat Soal Pengolahan Limbah Dapur Lewat Workshop Virtual Eco Enzym

"Yang tak kalah penting mencerdaskan perempuan Indonesia sehingga lebih berkualitas dalam berkarya," ujar Ritha.

Ritha Helena mengulas mengenai kilas balik perjuangan RA Kartini di masanya, di mana Kartini berjuang memperoleh pendidikan tinggi di tengah lingkungan yang tidak mendukung.

Saat di masanya, perempuan yang menginjak usia remaja akan dipingit dan tidak diperbolehkan bepergian jauh tanpa persetujuan hingga ia dipinang. Sehingga angka menikah muda cukup tinggi.

"Tapi Kartini tidak berhenti di situ saja, ia mencoba mengirim surat pada temannya dan segala upaya dilakukan supaya ia mendapatkan buku-buku pengetahuan dan surat kabar. Mulailah ia belajar," katanya.

Ritha Helena menuturkan, dengan perjuangan RA Kartini, ia akhirnya bisa mendirikan sekolah perempuan pertama. Meski dalam perjalannya ia tetap harus menikah di usia muda.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved