Toyol Dolanan Nuklir Hadirkan Kawanan Kunang-kunang Elektrik di Tengah Kota Surabaya

Melihat kawanan kunang-kunang saat memancing di kawasan Telocor Sidoarjo membuat Abd Hafidz Fadli (30) terinspirasi membuat projek kreatif.

SURYA/HABIBUR ROHMAN
Rekonstruksi kunang-kunang dalam pameran tunggal Kuantum Fayakun 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Melihat kawanan kunang-kunang saat memancing di kawasan Telocor Sidoarjo membuat Abd Hafidz Fadli (30) terinspirasi membuat projek kreatif.

Laki-laki asal Sidoarjo Jawa Timur ini merasa takjub ketika melihat kunang-kunang yang jumlahnya ribuan terbang memasuki kawasan hutan. Dari sana, ia ingin menghadirkan kunang-kunang supaya bisa dinikmati lebih banyak orang di tengah kota.

"Di tengah kota, kunang-kunang sangat sulit ditemui. Karena banyaknya polusi cahaya dan lingkungan yang tidak mendukung. Maka dari itu saya ingin menghadirkan kerlap kerlip cahaya kunang-kunang di tengah kota, khususnya Surabaya," ungkap laki-laki yang akrab disapa Toyol Dolanan Nuklir dalam pembukaan pameran tunggalnya, Kamis (29/4/2021).

Baca juga: Pameran Harmoni Tanpa Batas Diharapakan Sandiaga Uno Jadi Momentum Kebangkitan Ekonomi Kreatif

Dalam pameran bertajuk Kuantum Fayakun ia membuat 24 karya kunang-kunang mulai indukan hingga anak kunang-kunang.

24 kunang-kunang tersebut dipajang di ruang pameran N0lkecil Creative Space yang terletak di Jalan Dr Soetomo Surabaya.

Dilaksanakan selama 35 hari, Toyol mengaku ada filosofi tersendiri mengenai pemilihan jumlah karya 24 dan hari 35.

"Pemilihan angka 24 dan 35 mengantarkan memilih firman-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an yang ke-24, yaitu surat An-Nur, serta ayat 35-nya. Dalam ayat tersebut mengisyaratkan Allah sebagai pemberi cahaya langit dan bumi," kata Toyol.

Baca juga: Pameran Bertajuk Harmoni Tanpa Batas, Para ABK Sulap Barang Bekas Jadi Tas Berkualitas

"Surat yang berartikan cahaya tersebut memiliki korelasi dengan kuantum. Manusia dengan pikiran yang kian maju mempertanyakan segala hal tentang doktrin spiritual, termasuk cahaya-Nya," imbuhnya.

Ia menjelaskan, pembuatan 24 karya ini membutuhkan waktu satu bulan lamanya. Untuk mendapatkan inspirasi dan ketenangan, Toyol memilih mengerjakan proyek di daerah Pasuruan.

"Di sana sekaligus saya bisa melihat kunang-kunang secara langsung," ujarnya.

Untuk bahan, Toyol menggunakan barang bekas yang sudah tak terpakai yang ia dapatkan dari sisa industri besi.

Bahan-bahan tersebut di antaranya bekas pemakaian mesin kendaraan, parabola, limbah elektro, mesin dan lain sebagainya.

Zuhkhriyan Zakaria selaku kurator pameran Kuantum Fayakun mengatakan, ide pembuatan pameran tunggal ini bermula dari keinginan Toyol memiliki penangkaran kunang-kunang.

"Disampaikan kalau Toyol ini pengin punya penangkaran kunang-kunang sendiri. Sudah dicita-citakan sejak 3-4 tahun yang lalu. Tapi karena penangkaran kunang-kunang asli tidak mudah dilakukan, akhirnya dibuat dalam bentuk pameran," kata Zakaria.

Ia melanjutkan, pameran tersebut sekaligus menjadi kampanye lingkungan. Sebab, kunang-kunang disebutnya menjadi salah satu simbol keasrian lingkungan.

"Kalau masih banyak kunang-kunang yang ditemui di lingkungan sekitar maka bisa dibilang lingkungannya masih asri. Bisa jadi barometer pencemaran juga," ungkapnya.

Ia berharap melalui pameran tunggal Kuantum Fayakun ini bisa memberikan edukasi pada masyarakat luas supaya tetap menjaga lingkungan.

"Agar lingkungan terjaga dan kunang-kunang tidak punah. Masyarakat perkotaan juga bisa menikmati keindahan cahaya kunang-kunang di pameran ini," pungkasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved