Pejuang Sekolah Daring di Lereng Gunung Bromo saat Pandemi, Faktor Alam Bukan Hambatan Satu-satunya

Pandemi mengharuskan banyak kegiatan dilakukan secara daring atau online dari rumah, tak terkecuali kegiatan pembelajaran sekolah.

ISTIMEWA
Sugeng Eka Waluyo Guru SDN Ngadisari 2 Sukapura Probolinggo 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Pandemi mengharuskan banyak kegiatan dilakukan secara daring atau online dari rumah, tak terkecuali kegiatan pembelajaran sekolah.

Melakukan pembelajaran secara daring (dalam jaringan) ternyata tak mudah dilakukan bagi beberapa sekolah yang berada di pelosok, salah satunya sekolah di lereng Bromo.

SDN Ngadisari 2 Kecamatan Sukapura misalnya, masih ada beberapa murid yang kesulitan mengikuti kelas online karena kendala perangkat atau internet.

Sugeng Eka Waluyo Guru SDN Ngadisari 2 mengatakan, ada beberapa anak muridnya yang tidak memiliki ponsel setara smartphone. Padahal, untuk melakukan kelas online dibutuhkan perangkat yang memadai.

"Akhirnya kami para guru bantu dengan patungan menggunakan uang pribadi untuk membelikan smartphone supaya bisa menunjang pembelajaran mereka secara online," ungkapnya dalam talk show bertajuk 'Tantangan Pembelajaran dari Lereng Bromo' yang digelar secara daring oleh Harian Surya dan TribunJatim bekerja sama dengan Inovasi untuk Anak Sekolah Inovasi, Minggu (2/5/2021).

Baca juga: Sudah Divaksin, Guru SMP-SMA Sekolah Islam Shafta Siap Sambut Murid Baru dan Kelas Tatap Muka

Pria yang akrab disapa Eka tersebut mengatakan, tak hanya keterbatasan perangkat, namun faktor alam juga menjadi hambatan paling besar dalam proses belajar selama pandemi.

Cuaca buruk yang kerap berganti tak jarang menyebabkan padamnya aliran listrik ke Desa Ngadisari.

"Kalau listrik padam sudah tidak bisa apa-apa karena signal otomatis hilang. Padamnya listrik di sini juga lama. Bisa sehari semalam. Kalau sudah begini kelas online pasti terhambat," Eka memaparkan.

Eka menceritakan, sekolah daring ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Hambatan lain datang tak hanya dari alam, namun dari murid dan pihak guru sendiri.

Sebagai pengajar yang terbiasa dengan sistem luring, menggunakan berbagai aplikasi dalam smartphone juga membutuhkan waktu. Ditambah masih ada beberapa yang perangkat smartphone tidak mendukung aplikasi yang dibutuhkan.

"Karena pembelajaran online tidak tatap muka langsung, guru jadi tidak tahu apakah murid sudah mengerti atau belum. Apakah tugas yang dikerjakan benar-benar mereka kerjakan sendiri atau tidak. Ini tentu jadi masalah," katanya.

Baca juga: 3 Indonesia Berikan Kuota Internet 30 GB untuk 4.000 Sekolah Lebih

Untuk mengakali kesulitan tersebut, Eka bersama tim guru SDN Ngadisari 2 akhirnya merumuskan sistem pembelajaran baru dengan sistem luring.

Pihak guru akan mendatangi komunitas belajar murid yang rumahnya saling berdekatan. Satu kelompok belajar berisi dari berbagai tingkatan kelas.

"Jadi kami inisiatif yang mendatangi murid di komunitas belajar. Isinya campur mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Jadi kami terapkan multigrade teaching atau sistem kelas rangkap," ia memaparkan.

Dalam pembelajaran selama luring menggunakan sistem kelas rangkap tersebut, Eka merumuskan suatu metode belajar khusus yang bisa diterapkan di semua level.

"Pembagian tugas juga beragam. Kalau kelompok, maka semua level kelas mengerjakan bersama saling membantu. Tapi kalau tugas individu tetap disesuaikan level mereka. Pembelajaran seperti ini menurut saya efektif dilakukan saat pandemi seperti sekarang," urainya.

Meski pelajaran dilakukan secara bersamaan dengan berbagai level kelas, Eka menuturkan hal tersebut tidak mengganggu penerimaan materi oleh masing-masing anak.

Setiap anak akan diberi pelajaran satu persatu sesuai dengan level kelas mereka. "Hanya tempat dan waktunya saja yang bersamaan. Pelajarannya tetap beda-beda," imbuhnya.

Eka bersama tim guru mengaku berani melakukan pembelajaran tatap muka karena wilayahnya sudah masuk zona hijau. Ditambah lagi, pihaknya sudah mendapatkan izin dari pemerintah setempat dan dinas pendidikan.

"Sistem ini sudah disetujui dan punya regulasi yang jelas. Selama proses belajar mengajar kami juga menjaga protokol kesehatan ketat, yakni wajib pakai masker dan face shield. Menjaga sterilisasi dengan rajin cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer juga," pungkasnya.

Menyambut mulai diberlakukannya sekolah tatap muka, pihak SDN Ngadisari 2 mengedukasikan protokol kesehatan yang tepat pada para murid.

Selain itu, pihak sekolah juga menunjuk guru piket untuk berjaga setiap pagi sebelum murid mulai masuk. Fungsinya, untuk mengecek suhu dan mengarahkan para murid supaya menerapkan protokol kesehatan.

Menyambut pernyataan Eka terkait perjuangan SDN Ngadisari 2 untuk tetap belajar selama pandemi, Ramliyanto
Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Timur mengapresiasi penuh.

Menurutnya, upaya yang dilakukan Eka bersama para tim guru merupakan sebuah perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan.

"Saya melihat semangat para guru dan murid ini dari waktu ke waktu tidak pernah surut. Meski banyak halangan dan kesulitan, tetap tidak menyerah. Terutama para guru yang terus berjuang layaknya pahlawan," ungkap pria yang juga berasal dari Probolinggo tersebut.

Ramliyanto menjelaskan, di Jawa Timur memang banyak sekolah yang berada di kawasan Kepulauan Pegunungan dan Pedalaman (KPP)

"Jumlahnya ada 200 lebih yang tentunya banyak kendala dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kami berharap semangat juang dalam belajar baik oleh murid, orangtua maupun guru bisa terus terpupuk," tandasnya.

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved