Legenda Gunung Kelud yang Dipercaya Masyarakat, Berawal dari Penghianatan Cinta Sang Dewi

Legenda Gunung Kelud yang dipercaya masyarakat. Berawal dari penghianatan cinta sang Dewi.

ISTIMEWA
Legenda Gunung Kelud yang dipercaya masyarakat, berawal dari kisah cinta yang memilukan 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Gunung Kelud merupakan destinasi wisata alam yang terletak di antara dua kabupaten, Kediri dan Blitar.

Memiliki ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut, Gunung Kelud menjadi destinasi wisata yang menarik.

Diketahui, Gunung Kelud telah mengalami beberapa kali erupsi dan terakhir pada tahun 2014.

Erupsi terakhir Gunung Kelud ini sempat menghentikan roda perekonomian sementara masyarakat karena banyak yang harus mengungsi.

Namun kini, pesona wisata Gunung Kelud tak pernah pudar. Bahkan, muncul wisata-wisata baru di sekelilingnya.

Dibalik keindahan Gunung Kelud, ternyata ada legenda yang memilukan. Tentang kisah cinta Dewi Kilisuci.

Baca juga: Sejarah Kota Surabaya, Kota Pahlawan Metropolitan di Ujung Timur Jawa

Dikutip TribunJatim Wiki dari berbagai sumber, legenda Gunung Kelud berawal dari kisah dua raja, Jatha Suro dan Lembu Suro yang merupakan anak dari seorang yang sakti bernama Ki Buto Locaya. Sementara itu di sisi lain, hiduplah seorang putri nan cantik jelita bernama Tanggramawijaya Tunggadewi atau biasa disebut dengan nama Dewi Kilisuci.

Ia merupakan putri sulung dari Jenggolo Manik. Selain parasnya yang cantik, Dewi Kilisuci memiliki kedudukan sebagai putri mahkota Kerajaan Jenggala kala itu.

Sebagai putri mahkota, Dewi Kilisuci dituntut memiliki pendamping hidup yang sepadan, maka diadakanlah sayembara untuk menemukan calon pasangan sang Dewi.

Sayembara mencari pasangan untuk Dewi Kilisuci tersebut akhirnya sampai ketelinga Jatha Suro dan Lembu Suro.

Ketika ingin diperistri keduanya, Dewi Kilisuci berusaha menolak. Bagaimana tidak, dalam banyak sumber, Lembu Suro digambarkan sebagai manusia berkepala lembu. Sedangkan Jatha Suro atau yang dikenal juga dengan Singoludro memiliki kepala harimau.

Namun di beberapa sumber dikisahkan bahwa persaingan mendapatkan cinta Dewi Kilisuci dilakukan oleh Lembu Suro manusia berkepala lembu dan Mahesa Suro manusia berkepala Kerbau. Ada juga yang menyebutkan bahwa Lembu Suro dan Mahesa Suro adalah satu orang yang sama.

Kemudian, Dewi Kilisuci memberikan tantangan pada keduanya untuk membuat sumur di puncak Gunung Kelud. Kedua sumur tersebut salah satunya harus berbau amis dan satunya lagi wangi. Mereka harus bisa menyelesaikan dalam satu malam yang ditandai dengan ayam berkokok sebagai akhir waktu.

Baca juga: Sejarah Masuknya Halloween ke Amerika hingga Tradisi Pesta Perayaan Tahunan

Ternyata, keduanya berhasil menyelesaikan sayembara dengan membuat dua sumur di puncak Gunung Kelud.

Dewi Kilisuci masih tak mau diperistri keduanya, ia kemudian memberikan tantangan lagi. Untuk memastikan kedua sumur tersebut benar-benar berbau amis dan wangi maka harus memasukinya.

Termakan rayuan Dewi Kilisuci, Jatha Suro dan Lembu Suro akhirnya memasuki sumur yang sangat dalam itu. Saat mereka sudah berada di dasarnya, Dewi Kilisuci memerintahkan prajuritnya untuk menimbun Jatha Suro dan Lembu Suro menggunakan bebatuan hingga tewas.

Sebelum tewas, Lembu Suro sempat mengucapkan sumpahnya.

'Oh yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung',

(Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau.'

Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung Kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak supah itu yang disebut Larung Sesaji.

Hingga saat ini, wisata Gunung Kelud tak bisa lepas dari legenda kisah cinta yang memilukan tersebut.

Baca juga: Pejuang Sekolah Daring di Lereng Gunung Bromo saat Pandemi, Faktor Alam Bukan Hambatan Satu-satunya

Versi Raja Brawijaya

Dalam sumber lain diceritakan, bukan soal kisah cinta Dewi Kilisuci, namun seorang dewi dari Kerajaan Brawijaya.

Dikisahkan, Raja Brawijaya ingin mencarikan suami untuk putrinya, Putri Dyah Ayu Pusarini dengan menggelar sayembara mengangkat busur sakti Kyai Garudayeksa dan gong Kyai Sekardelima.

Tak ada yang bisa mengangkat busur maupun gong tersebut hingga Raja Brawijaya ingin menghentikan sayembara. Hingga suatu hari datanglah seorang berkepala lembu yang mampu memenangkan sayembara, yakni Lembu Suro.

Namun, Putri Dyah Ayu Pusarini tak ingin diperistri olehnya hingga akhirnya ia mengatur siasat.

Putri Dyah Ayu Pusarini meminta Lembu Suro membuatkan sumur di atas Gunung Kelud untuknya mandi.

Sumur tersebut harus selesai dalam waktu satu malam dan Lembu Suro menyanggupi.

Setelah sumur digali dengan sangat dalam, para prajurit justru menimbun Lembu Suro yang tengah berada di dalam sumur.

Lembu Suro sempat meminta tolong namun tak ada yang menghiraukan. Hingga saat ia tertimbun, sumpah Lembu Suro terdengar.

Kisah Lembu Suro yang tertimbun memang tidak bisa dibuktikan secara pasti, sebab ini merupakan legenda cerita rakyat yang dikisahkan turun temurun.

Namun banyak masyarakat yang percaya, meletusnya Gunung Kelud merupakan perwujudan mistik dari sumpah Lembu Suro.

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved