Legenda Telaga Sarangan Magetan, Kisah Suami Istri di Lereng Gunung Lawu yang Berubah Jadi Naga

Legenda Munculnya Telaga Sarangan Magetan, Bermula dari Kisah Suami Istri di Lereng Gunung Lawu

ISTIMEWA/Surya Malang
Legenda Telaga Sarangan yang muncul karena adanya naga besar 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, MAGETAN - Telaga Sarangan merupakan destinasi wisata alam andalan Kabupaten Magetan. Telaga Sarangan terletak di ketinggian 1.200 di atas permukaan air laut dengan suhu antara 15-20 derajat celcius.

Telaga alami yang berada di kawasan kaki Gunung Lawu, tepatnya di Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Jawa Timur.

Telaga yang mendapat julukan Telaga Pasir ini ternyata memiliki kisah kelam di awal terbentuknya.

Dikutip dari sumber infowisataid.com, terbentuknya Telaga Sarangan tak lepas dari cerita rakyat pasangan suami istri Kyai Pasir dan Nyai Pasir menjadi naga

Baca juga: Legenda Air Terjun Coban Rondo, Kisah Cinta Tragis yang Melahirkan Mitos Kutukan

Pasangan Kyai Pasir dan Nyai Pasir tidak dikaruniai putra, sehingga mereka harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup sendiri berdua.

Sehari-hari, pasangan suami istri ini mengembangkan lahan di sekitar kaki Gunung Lawu, Kyai Pasir yang bertugas membuka lahan baru untuk bercocok tanam.

Suatu hari saat tengah membuka lahan, Kyai Pasir menemukan sebuah telur berukuran besar di bawah pohon. Kyai Pasir keheranan melihat telur tersebut.

Ia beranggapan tak ada hewan yang bertelur di wilayah tersebut, lalu itu telur apa?

Karena merasa lelah dan lapar seharian menggarap lahan, Kyai Pasir membawa pulang telur itu. Ia beranggapan bahwa Nyai Pasir akan senang jika telur besar itu dimasak.

Sesampainya di rumah, Kyai Pasir meminta istrinya memasak telur temuannya itu. Setelah matang, telur tersebut dibagi dua dan dimakan bersama sang istri.

Baca juga: Legenda Gunung Kelud yang Dipercaya Masyarakat, Berawal dari Penghianatan Cinta Sang Dewi

Seusai menyantap telur, Kyai Pasir berkeinginan kembali ke lahan untuk meneruskan pekerjaannya. Namun saat baru beberapa kali mengayunkan cangkulnya, Kyai Pasir merasa ada yang aneh.

Kyai Pasir merasa kepalanya pusing dan sekujur tubuhnya terasa panas serta gatal. Ia berusaha menggaruk badannya namun gatal itu tak kunjung hilang.

Untuk mengurangi rasa gatalnya, Kyai Pasir sampai bergulung di tanah supaya rasa gatalnya hilang. Namun, tetap tak kunjung reda gatal yang dirasakan Kyai Pasir.

Ternyata, hal serupa juga dirasakan oleh Nyai Pasir di rumah. Setelah menyantap setengah bagian telur, ia merasa badannya panas dan gatal. Karena tidak tahan Nyai Pasir berniat meminta tolong pada suaminya.

Betapa terkejutnya Nyai Pasir saat melihat suaminya di ladang tidak ada. Ia malah menemukan seekor ular naga besar yang bergulung di tanah.

Tak kuat menahan rasa gatal dan panas tubuhnya, Nyai Pasir akhirnya ikut bergulung-gulung dan menyusul menjadi ular naga yang sangat besar seperti suaminya.

Kedua ular naga tersebut terus bergulung-gulung hingga menimbulkan cerukan tanah yang semakin dalam. Selama berbulan-bulan lamanya, cerukan tersebut kemudian terisi air dan dikenal sebagai wisata Telaga Sarangan hingga saat ini.

Telaga ini sekaligus dikenal sebagai Telaga Pasir dan menjadi ikon wisata Kabupaten Magetan.

Kisah mengenai cerita rakyat Jawa Timur tersebut banyak dipercayai oleh sebagian orang hingga saat ini.

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved