Greysia Polii Atlet Bulu Tangkis Peraih Emas Olimpiade Tokyo Pernah Ingin Pensiun 'Gantung Raket'

Greysia Polii (33) merupakan atlet bulu tangkis Indonesia yang bermain dalam nomor ganda puteri.

ISTIMEWA
Greysia Polii (kiri) dan Apriyani Rahayu (kanan) atlet bulu tangkis yang berhasil raih emas dalam Olimpiade Tokyo 2020 dalam nomor ganda puteri. 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Greysia Polii (33) merupakan atlet bulu tangkis Indonesia yang bermain dalam nomor ganda puteri.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu meraih emas dalam Olimpiade Tokyo 2020 setelah mengalahkan pasangan ganda puteri asal China Q.C. Chen dan Y.F. Jia di babak final.

Bakat atlet yang dimiliki Greysia Polii sudah mulai terlihat sejak ia remaja. Banyaknya kejuaraan junior yang ia ikuti sejak tahun 2004 hingga kejuaraan umum internasional membuat kemampuan Greysia Polii tak bisa dipandang sebelah mata.

Terlahir dari pasangan asli Minahasa Willy Polii dan Evie Pakasi, ternyata Greysia Polii memiliki kakak yang juga seorang atlet.

Deyana Lomban merupakan atlet bulu tangkis nasional yang merupakan kakak Greysia Polii. Meski kini namanya semakin melejit, ternyata atlet kelahiran Jakarta 11 Agustus 1987 tersebut mengaku pernah ingin pensiun.

Dikutip TribunJatim Wiki dari Kompas.com, sebelumnnya, pebulu tangkis berusia 33 tahun itu belum berhasil ketika berjuang di London 2012 dan Rio 2016.

Baca juga: Greysia Polii

Olimpiade London 2012 menjadi kenangan yang paling pahit bagi Greysia Polii. Greysia Polii yang saat itu berpasangan dengan Meiliana Jauhari mengalami keterpurukan karena didiskualifikasi.

Mereka didiskualifikasi di London 2012 lantaran dianggap melanggar kode etik. Tersingkir dengan cara yang tak terhormat membuat Greysia merasa begitu terpuruk hingga sempat berpikir untuk pensiun.

Namun, pada akhirnya memutuskan untuk tidak menyerah, dan berjuang bersama Nitya Krishinda Maheswari di Olimpiade Rio 2016.

Meski belum juga berhasil di Rio 2016 lantaran terhenti di perempat final, Greysia bersyukur tak jadi gantung raket dan dapat terus melanjutkan kariernya.

"Olimpiade London 2012 menjadi titik terendah dalam hidup saya, merupakan hal yang terburuk yang pernah saya alami," tulis Greysia dalam unggahan Instagram-nya pada tahun 2016.

"Didiskualifikasi dari event terbesar dunia (Olimpiade) membuat saya ingin menyerah, merasa tak berguna dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap hidup saya."

"Keinginan untuk berhenti berkarier di bulutangkis menjadi satu-satunya pilihan saya waktu itu, tetapi itu tidak pernah terjadi sampai saya memutuskan untuk mencoba kembali sekali lagi dan berharap untuk bisa lanjut sampai Olimpiade Rio 2016."

"4 tahun telah dilewati, banyak hal yang saya lalui sebelum saya benar-benar berada di Olimpiade Rio 2016."

Pada tahun 2017 setelah Olimpiade Rio 2016 berakhir, Greysia Polii berniat untuk gantung raket atau pesiun.

Keputusan Greysia Polii pensiun dini juga tak terlepas dari kondisi pasangannya saat itu, Nitya Krishinda Maheswari, yang mengalami cedera.

Akan tetapi, akhirnya Greysia Polii tak jadi gantung raket usai sang pelatih memintanya menjadi duet Apriyani Rahayu. Dia diminta untuk membuat Apriyani semakin berkembang.

Greysia Polii tetap melanjutkan kariernya hingga menuai berbagai prestasi bersama Apriyani.

"Perjalanan yang panjang bagi saya. Ini tentang bagaimana keinginan Anda untuk bertahan dan bertahan," ucap Greysia seusai laga semifinal Olimpiade Tokyo 2020 dilansir situs BWF pada 31 Juli.

Setelah meraih emas bersama Apriyani Rahayu dalam Olimpiade Tokyo 2020, semangat Greysia Polii untuk melanjutkan perjuangan sebagai atlet kebanggaan Indonesia kembali berkibar.

Ikuti kami di
KOMENTAR
1154 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved