Tingginya Angka Perceraian, Permabudhi Gelar Edukasi 'Menjadi Pasangan Harmonis dalam Pernikahan'

Meningkatnya kasus perceraian dari tahun ke tahun melandasi Pemberdayaan Wanita Permabudhi menggelar Webinar seputar pernikahan.

ISTIMEWA
Ketua Pemberdayaan Wanita Permabudhi, Ritha Helena saat mengisi acara Webinar bertajuk 'Menjadi Pasangan Harmonis dalam Pernikahan'. 

SURABAYA - Meningkatnya kasus perceraian dari tahun ke tahun melandasi Pemberdayaan Wanita Permabudhi menggelar Webinar seputar pernikahan bertajuk 'Menjadi Pasangan Harmonis dalam Pernikahan'.

Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi mendalam terkait langkah membentuk keluarga yang harmonis serta dapat menekan angka perceraian di Indonesia khususnya.

Ketua Pemberdayaan Wanita Permabudhi, Ritha Helena mengatakan, angka perceraian di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, kondisi pandemi saat ini turut berperan dalam peningkatan kasus keretakan rumah tangga.

"Dari data statistik 2014-2019 angka perceraian di Indonesia terus meningkat. Ditambah lagi kondisi pandemi yang hampir dua tahun dan banyak memengaruhi perekonomian membuat permasalahan keuangan di keluarga makin pelik," ungkap Ritha Helena, Selasa (19/10/2021).

Baca juga: Gelar Baksos hingga Workshop, Wanita Permabudhi Ajak Perempuan Indonesia Saling Menginspirasi

Menurut Ritha Helena, angka perceraian tersebut bisa ditekan jika masing-masing pasangan sebelum menikah bisa memiliki pengetahuan yang cukup dan kesiapan mental yang baik.

Ketua Umum Wandani Wenny Lo
Ketua Umum Wandani Wenny Lo (ISTIMEWA)

Hal serupa juga diungkapkan oleh Wenny Lo, profesional sekaligus aktivis sosial ini beranggapan, tahapan pra nikah sangat memengaruhi berjalannya rumah tangga ke depan. Menurutnya, banyak perbedaan yang tidak dibahas sejak sebelum menikah menjadi salah satu penyebab perceraian.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Wandani ini menekankan pentingnya pemahaman dan penerimaan karakter sejak sebelum menikah hingga awal pernikahan.

Ketika usia pernikahan memasuki level lanjutan, yakni 5-10 tahun, dibutuhkan komitmen yang lebih supaya harmonisasi keluarga bisa terjaga.

Ketua Umum Permabudhi, Prof. Dr. Philip K. Widjaja. 
Ketua Umum Permabudhi, Prof. Dr. Philip K. Widjaja.  (ISTIMEWA)

"Berbeda dengan pernikahan di bawah 5 tahun, pada tahap ini masalah semakin banyak yang datang. Perasaan bosan, jenuh dan monoton mulai menggoyahkan prinsip berumah tangga," jelas Ketua Umum Permabudhi, Prof. Dr. Philip K. Widjaja.

Untuk mencegahnya, lanjut Prof. Philip, penerimaan seutuhnya terhadap pasangan menjadi hal terpenting. Tak hanya soal fisik dan materi, namun menyeluruh.

"Kalau kita bisa menerima pasangan apa adanya, baik buruknya, maka bisa melewati masa ini. Dan jangan terlalu euforia di awal pernikahan, supaya tidak kaget ketika ada masalah di tengah," paparnya.

Baca juga: Pemberdayaan Wanita Permabudhi Gaungkan Semangat Merdeka Lewat Donasi 5 Ton Beras untuk para Veteran

Hal tersebut disetujui oleh Psikolog Dra. A. Kasandra Putranto. Ia menyatakan bahwa pernikahan adalah hal yang susah-susah gampang ketika dijalani. Di dalam suatu pernikahan ada metamorfosis yang berkembang.

Psikolog Dra. A. Kasandra Putranto.
Psikolog Dra. A. Kasandra Putranto. (ISTIMEWA)

Menjalin hubungan pernikahan berarti harus siap menerima perubahan pasangan satu sama lain. Mereka masing-masing juga harus siap berubah menjadi lebih baik.

"Ino yang disebut metamorfosis atau berkembang. Kita tidak bisa menuntut pasangan harus selalu sempurna. Pasti akan ada fase berubahnya. Bagaimana memahami perubahan tersebut yang penting," pungkasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved