Konsep Unification Hiasi Malam Graduation LaSalle College Surabaya, Creative Show Digelar Hybrid

Setelah cukup lama vakum dalam kegiatan secara offline, LaSalle College Surabaya kembali menggelar graduation berbasis hybrid. 

SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Graduation LaSallae College Surabaya 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, SURABAYA - Setelah cukup lama vakum dalam kegiatan secara offline, LaSalle College Surabaya kembali menggelar graduation berbasis hybrid

Di mana, graduation tersebut dilaksanakan langsung secara offline di Vasa Hotel Surabaya dan diikuti oleh beberapa pihak secara online. 

Graduation yang menggabungkan dua angkatan (tahun 2020 dan 2021) ini mengusung tema Unification. Tema ini menyuarakan persistensi dari srmangat keluarga besar LaSalle College Surabaya melalui rangkaian kegiatan hybrid creative show. 

"Unification ini dipilih karena kami ingin mengambil latar belakang kasus pandemi yang terjadi di sekitar kita. Dalam bidang pendidikan terutama industri kreatif sangat struggle. Namun di sini kami membuktikan bisa bertahan dan menyelesaikan dengan baik," ujar Patrick LSM selaku dosen dan konseptor, Kamis (21/10/2021) malam. 

Baca juga: Tiga Busana Imlek LaSalle College Surabaya Usung Sustainable Fashion

Patrick mengatakan, tema Unification ini diharapkan mampu menjadi wadah kreativitas para siswa LaSalle College Surabaya untuk tidak berhenti berkarya. 

Dalam Unification ini, karya para siswa LaSalle yang sangat bervariasi digabungkan menjadi satu dalam creative show berbasis hybrid. Tak hanya karya busana, namun juga kolaborasi dengan artistic makeup, desain grafis hingga desain interior. 

Terkait konsep Unification sendiri, lanjut Patrick, menggambarkan ketidakseimbangan. Hal ini melambangkan kondisi pandemi Covid-19 yang berdampak dalam berbagai aspek sehingga menimbulkan ketidakseimbangan. 

"Unification melambangkan ketidak seimbangan yang terjadi selama pandemi. Kami hadirkan dua contoh busana yang merepresentasikan konsep unification. Yakni busana Ceruicix karya Agnesia Rinanda," papar Patrick. 

Dua busana merah dominan tersebut membawa pesan tersirat. Gradasi warna merah terang di bagian atas dan sedikit memudar di bagian bawah menggambarkan proses perjuangan selama pandemi. 

Menurut Patrick, warna merah sengaja dipilih untuk merepresentasikan keberanian dan semangat di era baru. Meski pandemi masih berjalan, semangat dan berani untuk berkarya tidak boleh pudar. "Warna merah ini juga sebagai lambang perjuangan si desainer yang struggling menyelesaikan busana ini dengan baik," tambah Patrick. 

Baca juga: Beauty-Scare Halloween, Terinspirasi dari Hantu Wanita Urban Legend Jepang

Busana bertabur kristal di bagian pundak ini dibuat gradasi warna merah terang kemudian memudar ke arah bawah. Gradasi diartikan sebagai kebangkitan untuk menuju arah yang lebih baik. 

Jika dilihat, bagian bawah busana terlhat warna semi krem dengan sentuhan warna merah yang bertambah tajam semakin ke atas. Proses kebangkitan dimulai dari bawah sampai ke puncak tertinggi. 

Patrick menjelaskan, keterbatasan untuk bertemu menjadi kendala cukup besar dalam menyelesaikan koleksi-koleksi yang dihadirkan dalam unification LaSalle College kali ini. 

Sebab, proses mulai dari membuat desain ilustrasi, membuat pola, menjahit sampai busana jadi semuanya dilakukan dari jarak jauh. 

"Untuk pembelajaran yang berbasis praktikal tentunya pembelajaran offline cukup menyulitkan. Saat tengah praktik kemudian signal terganggu. Belum lagi penyelesaiannya bisa lebih lama. Namun kami tegaskan supaya siswa bisa selesai tepat waktu. Menjaga disiplin dan deadline," kata Patrick. 

Proses pembuatan semua koleksi tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 4 bulan lamanya. "Kami ada 69 siswa yang ikut graduation. Khusus untuk fashion design setiap siswa membawa lima koleksi busana," kata Patrick.

Salah satu siswa LaSalle College yang karyanya juga dipajang dalam koleksi Unification adalah Widya Puspa. Siswa asal Kalimantan ini menghadirkan karya busana khusus untuk pekerja wanita.

Ia mengaku, karyanya ini terinspirasi dari sebuah note book yang bergaris dan suasana kota. Widya menggambarkan, kertas bisa menjadi representasi diri seseorang yang dikaitkan dengan buku catatan dan dikembangkan menjadi sebuah outfit.

Selama empat bulan, Widya membuat outfit kerja yang diberi sentuhan ala Kpopers. Ia menggabungkan kain woll dan katun sebagai bahan utamanya.

"Total buatnya empat bulan dari mendesain sampai menjahit. Cuttingan saya memilih model A line dan dipadukan dengan celana pensil. Look seperti ini saya kira akan menjadi tren melihat fashion saat ini banyak yang berkiblat ke Korea," tutupnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved