Bahaya Virus Omicron 4 Kali Lebih Menular dari Varian Delta, Granostic Ajak Masyarakat Waspada 

Varian terbaru virus corona sudah mulai menginfeksi sebagian warga kawasan Afrika Selatan beberapa waktu lalu

TRIBUNNEWSWIKI.COM/MELIA.LUTHFI.HUSNIKA
Dokter in house Granostic Center Surabaya, dr Aji Wibowo saat mengisi materi edukasi seputar kesehatan di acara MoU Granostic Center bersama Indonesia Brain and Spine Community sebagai perwakilan Kortex serta Yayasan Prestasi Prestasi Pendidik, Sabtu (4/12/2021).    

 SURABAYA - Varian terbaru virus corona sudah mulai menginfeksi sebagian warga kawasan Afrika Selatan beberapa waktu lalu. Varian omicron ini disebut lebih memiliki penularan lebih cepat dibanding Covid-19 dari Wuhan dan varian delta

Hal tersebut diungkapkan langsunf oleh dokter in house Granostic Center Surabaya, dr Aji Wibowo. Menurut dr Aji, varian Omicron memiliki daya tular lebih cepat dari varian virus corona lain. 

"Dari data yang saya dapat, omicron ini 500 kali lebih menular dari varian yang Wuhan. Padahal kita tahu varian delta itu penularannya 100 persen dari varian Wuhan. Jadi bisa dikatakan virus jenis omicron ini bisa menular 4 kali lebih cepat dari varian delta," ujar dr Aji saat mengisi acara edukasi untuk para guru yang digelar oleh Granostic Center bekerja sama dengan berbagai pihak, Sabtu (4/12/2021). 

dr Aji menuturkan, melihat bahayanya varian delta, masyarakat patut waspada akan penyebaran virus varian omicron ini. Sebab, potensi penularannya lebih besar. 

Baca juga: Apresiasi Kinerja Guru selama Pandemi, Granostic Center Fasilitasi Layanan Kesehatan Komprehensif 

Meski berasal dari Afrika yang secara geografis letak wilayahnya jauh dari Indonesia, tak menutup kemungkinan virus jenis omicron juga akan masuk seperti varian sebelumnya. 

"Bahkan menurut informasi yang saya dapat, virus varian omicron ini sudah menginfeksi beberapa orang di wilayah Asia. Dan informasi terbarunya sudah masuk Malaysia. Kita harus waspada akan potensi terjadinya gelombang ketiga. Tapi semoga tidak sampai terjadi," ungkapnya. 

Karena mutasi virus yang terjadi begitu banyak, dr Aji mengatakan, masuknya virus omicron ini bisa terjadi reinfeksi atau infeksi kedua bagi yang sudah pernah terpapar. 

Namun, karena anribodi sudah terbentuk, dampaknya tak akan buruk seperti yang belum terkena. Inilah mengapa dr Aji sangat menyarankan warga yang belum vaksin untuk segera melakukan vaksinasi. 

Gejala yang dialami oleh pasien terinfeksi varian omicron juga berbeda dengan varian sebelumnya seperti delta. Jika varian delta menginfeksi, salah satu gejalanya adalah anosmia atau kehilangan indera penciuman dan perasa. 

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Laboratorium dan Diagnostik Masyarakat, Granostic Siap Layani 24 Jam dalam 7 Hari

"Sedangkan varian omicron membuat pasien merasa amat kelelahan dan flu berat. Justru lelah dan flu ini paling menonjol menurut penyintas yang di Afrika sana," dr Aji menjelaskan. 

Ia mengimbau supaya masyarakat waspada meskipun telah mendapatkan vaksinasi lengkap dua dosis. 

"Sudah vaksin pun masih berpotensi kena. Namun gejalanya tidak akan sampai berat. Sama seperti yang sudah pernah terinfeksi. Jadi harus vaksin ya kalau ada kesempatan. Kita jangan lemah karena beberapa waktu terakhir ini kasus mereda. Yang sudah vaksin saja berpotensi kena, apalagi yang belum," paparnya. 

dr Aji juga mengimbau supaya masyarakat tidak lengah prokes. Mulai memakai masker, mencuci tangan hingga menghindari kerumunan dengan menjaga jarak harus dijadikan gaya hidup. 

Karena menurutnya, sampai kapan pandemi ini berakhir masih belum pasti. Mengantisipasi dan mencegah penularan adalah cara paling aman untuk tetap sehat. 

"Jangan sampai lengah apalagi meremehkan. Karena ada yang sudah sembuh tapi masih ada gejala seperti kelelahan atau batuk berkepanjangan. Penyembuhannya ini tergantung masing-masing individu. Karena imun setiap oranh berbeda. Maka dari itu mencegah adalah solusi terbaik," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR
1304 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved