Kisah Dokter May Fanny yang Rela Berpisah dengan Anak-anaknya Demi Jalankan Tugas Kemanusiaan 

Pandemi membawa banyak dampak di berbagai bidang. Banyak keluarga yang harus mengalah untuk tidak berkumpul supaya mencegah penularan. 

ISTIMEWA
dr May Fanny Tanzila, Sp.PK (K), atau yang akrab disapa dr May adalah seorang spesialis patologi klinik asal Kota Surabaya. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi seorang guru. 

SURABAYA - Pandemi membawa banyak dampak di berbagai bidang. Banyak keluarga yang harus mengalah untuk tidak berkumpul supaya mencegah penularan. 

Baca juga: Headpiece Etnik Bernuansa Gold Karya Ipank Capello, Gambarkan Sosok Dewi dalam Legenda Kerajaan

Seperti yang dirasakan oleh dokter perempuan asal Surabaya, dr May Fanny Tanzila, Sp.PK (K). Dokter spesialis patologi klinik ini mengaku, ia harus berpisah dengan anak-anaknya demi menjaga mereka tetap aman. 

Pekerjaan dr May yang sehari-hari berjibaku di klinik untuk meneliti sampel-sampel dari pasien, apakah terdapat virus atau tidak memang rentan, terutama saat masa pandemi seperti saat ini. 

dr May Fanny Tanzila, Sp.PK (K), seorang dokter spesialis patologi klinik asal Surabaya ternyata punya cita-cita ingin menjadi seorang guru sejak kecil.
dr May Fanny Tanzila, Sp.PK (K), seorang dokter spesialis patologi klinik asal Surabaya ternyata punya cita-cita ingin menjadi seorang guru sejak kecil. (ISTIMEWA)

"Tugas saya sehari-hari kan berjibaku di lab, meneliti sampel dari pasien. Apakah ada virus atau ada penyakit tertentu. Ini kan rentan, terutama saat pandemi lagi tinggi-tingginya. Jadi mau tidak mau, harus mengalah untuk tidak bertemu dulu dengan anak untuk sementara," jelas dr May. 

Perempuan yang juga berprofesi sebagai seorang dosen ini menjalani ritme berbeda semenjak pandemi. Saat kasus infeksi Covid-19 sedang tinggi dan harus menghabiskan waktu lebih banyak di laboraturium, ia memilih menitipkan anak-anaknya pada sang mertua. 

dr May harus rela tak bertemu secara langsung dengan anak-anaknya dalam kurun waktu 2-3 minggu. Sampai kasus Covid-19 melandai. Untuk mengobati rasa rindunya, ia hanya bisa bertemu dengan keluarga via virtual. 

"Jadi, anak-anak dititipkan ke mertua. Saya di rumah sendirian. Kangen sih pasti, tapi semua demi kebaikan bersama. Paling hanya bisa ketemu lihat video call. Saya selalu menyempatkan video call bersama anak-anak," jelasnya. 

Baca juga: Sosok Angeline Virginia Wong, Lukiskan Peristiwa Perobekan Bendera Hari Pahlawan pada Gaun Batiknya

Bukan kali pertama dr May harus menerima risiko pekerjaan yang ia emban, juga berpengaruh pada keluarga termasuk anak-anaknya. Dulu, saat ia masih membuka praktik di rumahnya, ada pasien dr May yang datang. Pasien tersebut terinfeksi Flu Singapura

Nahasnya, sang anak yang kala itu masih balkecil harus tertular Flu Singapura dari pasien tersebut. dr May merasa sedih karena anak kesayangannya juga turut merasakan sakit, namun itu adalah risiko yang harus dijalani. 

Setelah berjibaku di masa pandemi selama hampir dua tahun ini, dr May sudah mulai menemukan ritme kerjanya. Ia menjadi lebih mudah untuk mengatur waktu bersama keluarga, menjalani peran sebagai dokter, dan mengajar di 2 universitas sekaligus. 

"Sekarang karena sudah tahu ritmenya jadi lebih mudah. Ditambah lagi karena perkuliahan masih online, jadi memudahkan untuk bagi waktu. Karena bagi saya keluarga tetap yang utama," pungkas dia.

 

 

Ikuti kami di
KOMENTAR
1383 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved