Profil Haerunnisah, Belajar Karakter Banyuwangi Dari Media Sosial

Dara asal Banyuwangi ini sangat paham dengan kota kelahirannya, sehingga memudahkan baginya memotret permasalah dan memberikan solusi bagi kotanya

Editor: Adrianus Adhi
istimewa
Profil Haerunnisah, Belajar Karakter Banyuwangi Dari Media Sosial 

TRIBUNJATIMWIKI.COM, MALANG- Mahasiswa Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yaitu Haerunnisah yang meraih juara 1 bersama rekan setimnya dari ITS Surabaya pada lomba  “Menata Banyuwangi Menuju Tata Ruang Berkualitas”.

Kegiatan ini diikuti 49 peserta umum, baik perorangan maupun tim dari seluruh Indonesia.

Karena bukan warga Banyuwangi, maka ia belajar karakter Banyuwangi dari berbagai media sosial. "Karena kami bukan asli Banyuwangi, maka kami mencari data-data dari sosial media.

Serta, melakukan wawancara sederhana kepada beberapa masyarakat Banyuwangi," jelas Nisa beberapa waktu lalu dalam rilis humas ITN Malang. 

Baca juga: Menikmati Keindahan Ragam Flora Lewat Seni Lukis Botani di Artotel TS Suites Surabaya

Mahasiswa semester 7 ini menceritakan jika ia dan rekan satu tim saat ini sedang magang bersama dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di PU-CKPP Kabupaten Banyuwangi, Program Kampus Merdeka. Yang jelas ada rasa senang dan bangga bisa juara 1. Apalagi kompetitornya dari berbagai kalangan.

Festival Nusantara lomba presentasi “WaOs” (Arsitektur Nusantara Wawarah in Osing) menjadi tantangan sendiri bagi Nisa, dara asal  Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur ini.

Festival ini memperingati Hari Agraria dan Tata Ruang ini diadakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (PU-CKPP) Kabupaten Banyuwangi, di Gedung Djuang 45 Banyuwangi pada 26- 27/11/2022. 


Dalam presentasinya, ia mengangkat tema “Peran dan Partisipasi Masyarakat dalam Penataan Ruang”. Mereka melihat penataan ruang di Indonesia mulai dijalankan dengan serius.

Mulai dari revisi peraturan penataan ruang dan target 2000 penyusunan RDTR kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Namun peran dan partisipasi masyarakat masih sangat rendah. Padahal regulasi yang membahas peran dan partisipasi masyarakat dalam penataan ruang sudah tersedia.

Yaitu dalam Peraturan Pemerintah Dalam Negeri No. 4 Tahun 2019 serta Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2010.

“Kenapa bisa masih rendah? Karena kurangnya kesadaran masyarakat. Ini akan pentingnya penataan ruang dan rasa tanggung jawab (masyarakat) sebagai pemilik wilayah,” tuturnya. Menururnya, yang seharusnya masyarakat lakukan untuk mendukung penataan ruang inilah yang mereka bahas dalam perlombaan. 

Mulai dari kriteria masyarakat yang wajib berperan dalam penataan ruang, bentuk partisipasi serta memberikan studi kasus tentang keberhasilan dari peran dan partisipasi masyarakat Banyuwangi yang ada di Desa Kemiren Banyuwangi.

Baca juga: Rayakan Natal dan Tahun Baru, Shangri-La Surabaya Sajikan Menu Spesial dan Bazaar Bareng Pengrajin

Dikatakan, lomba ini dapat memberikan wawasan baru kepada masyarakat. Khususnya bagi masyarakat Banyuwangi untuk meningkatkan lagi bentuk partisipasinya terhadap penataan ruang. Sebab nasib suatu wilayah bergantung dari masyarakatnya itu sendiri. Mahasiswa ITN Malang lainnya yaitu Sherly Belarobertha masuk 10 finalis terbaik “WaOs”.

Dara asal Banyuwangi ini sangat paham dengan kota kelahirannya, sehingga memudahkan baginya memotret permasalah dan memberikan solusi bagi kotanya. Presentasinya mengangkat tema “Menata Banyuwangi Menuju Tata Ruang Berkualitas”.

Menurutnya, permasalahan lingkungan Kabupaten Banyuwangi berawal dari permasalahan spasial tentang keruangan. Meliputi tidak efisiennya penggunaan lahan, penggunaan lahan tidak sesuai dengan peruntukan. Serta tingginya konversi kawasan dari lahan tidak terbangun menjadi terbangun. Alih fungsi lahan tersebut mengakibatkan permasalah lingkungan terutama banjir. 

Mahasiswa PWK semester lima ini melihat adanya banjir seperti di Kalibaru Banyuwangi banyak konversi lahan dari lahan tanaman keras ke tanaman tebu. Sehingga tanaman tidak kuat menahan banjir, maka perlu adanya membatasi konversi lahan. Ia mengaku sempat grogi saat presentasi sebagai peserta pertama. Sylvianita Widyawati

Ikuti kami di
KOMENTAR
1654 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved